Jepang, negara dengan citra futuristik, ternyata masih tertinggal dalam adopsi teknologi digital. Serangan siber yang menghantam beberapa institusi dan individu di Jepang menunjukkan bahwa negara ini berada di belakang dalam hal keamanan digital. Kelambatan dalam transformasi digital Jepang juga tercermin dari penggunaan teknologi informasi yang masih terbatas. Sekolah menggunakan mesin faks untuk komunikasi, dan baru-baru ini pemerintah menghapus penggunaan disket dalam pengiriman dokumen setelah 14 tahun. Ketergantungan pada sistem jadul ini mungkin mengejutkan bagi wisatawan yang merasa Jepang hidup di masa depan.
Seiring dengan pandemi, Jepang mulai menyadari kekurangan dalam digitalisasi. Meski ada tekanan untuk beralih ke proses online, transisi tersebut tidak berjalan mulus. Contohnya adalah penggunaan “hanko,” stempel pribadi yang masih digunakan dalam transaksi perbankan dan perusahaan. Keengganan untuk berubah juga tercermin dari budaya Jepang yang mendukung sistem yang stabil dan sudah teruji.
Namun, perlahan-lahan masyarakat Jepang mulai beradaptasi dengan digitalisasi. Sayangnya, hambatan masih terjadi terutama pada usaha kecil dan menengah yang lambat dalam mengadopsi teknologi. Banyak perusahaan tidak memiliki tim yang fokus pada transformasi digital, dan masalah keamanan siber juga kurang diprioritaskan. Semua ini menunjukkan bahwa Jepang masih perlu mengejar ketertinggalan dalam digitalisasi untuk bersaing secara global.










