Demensia, atau yang sering disebut pikun, tidak hanya terjadi pada orang lanjut usia di atas 60 tahun. Bahkan, kondisi ini juga bisa dialami oleh individu yang masih muda, bahkan anak-anak. Dikenal dengan istilah Young Onset Dementia (YOD) atau Early Onset Dementia (EOD), demensia pada usia muda biasanya muncul sejak usia 20-an, bahkan lebih muda.
Demensia merupakan kondisi ketika otak mengalami penurunan fungsi, yang dapat mengakibatkan berbagai masalah seperti penurunan kemampuan berbahasa, daya ingat, serta kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penyakit ini bersifat progresif, di mana gejalanya akan semakin berkembang dan memburuk seiring berjalannya waktu. Kondisi ini seringkali dialami oleh orang lanjut usia karena semakin bertambahnya usia, semakin tinggi pula risiko terjadinya demensia.
Berbagai faktor risiko juga dapat menyebabkan demensia pada usia muda, mulai dari genetik, penyakit diabetes, hingga kelainan otak tertentu. Gejala demensia pada usia muda tidak selalu terlihat seperti lupa-lupa ringan, tetapi juga bisa berupa perubahan perilaku, emosi, dan bahasa. Untuk mencegah demensia, penting untuk menjaga gaya hidup sehat, seperti berolahraga, menerapkan pola makan sehat, serta menjaga otak tetap aktif dengan belajar hal baru dan berinteraksi dengan orang lain.
Meskipun belum ada obat yang dapat menyembuhkan demensia, upaya pencegahan dan deteksi dini sangat penting agar risiko terkena demensia bisa diminimalkan. Dengan menjaga kesehatan tubuh dan otak, serta menghindari kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol, maka peluang terkena demensia pada usia muda bisa dikurangi.












