Aktivitas seismik di Kalimantan menarik perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), karena pulau ini bukanlah zona aman dari gempa. Meskipun tingkat kegempaan di Kalimantan relatif lebih rendah daripada di pulau lain di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, atau Sulawesi, namun Kota Tarakan di Kalimantan Utara dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas seismik yang cukup tinggi.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menekankan bahwa adanya sejarah kejadian gempa merusak di Tarakan sejak awal abad ke-20 menunjukkan potensi bahaya yang tetap ada di Kalimantan. Hal ini disebabkan oleh sistem sesar aktif di pulau yang dapat memicu gempa signifikan meskipun dengan magnitudo yang tidak terlalu besar.
Pola kejadian gempa yang berulang di Tarakan juga terkait dengan aktivitas Sesar Tarakan, salah satu sesar aktif di bagian utara Kalimantan. Gempa terbaru pada 5 November dengan magnitudo M4,8, meskipun tidak besar, tetap menyebabkan kerusakan yang signifikan. Hal ini menegaskan pentingnya kualitas bangunan sebagai faktor penentu dampak gempa.
Sejarah gempa merusak di Kalimantan juga menjadi catatan penting, di antaranya adalah gempa dan tsunami Sangkulirang di Kalimantan Timur, gempa-gempa di Tarakan, serta kejadian gempa di Kalimantan Selatan, Barat, Tengah, dan Banjar. Semua catatan ini menunjukkan bahwa Kalimantan bukanlah zona bebas gempa, dan kehati-hatian serta kewaspadaan tetap diperlukan di pulau ini.












