Diabetes sering disebut penyakit “silent killer” karena gejalanya muncul perlahan dan sulit disadari. Banyak orang baru menyadari mereka mengidap diabetes setelah komplikasi serius terjadi. Oleh karena itu, mengenali cara diagnosis yang tepat sangat penting untuk deteksi dini, pengelolaan yang lebih efektif, serta mencegah komplikasi jangka panjang.
Mendiagnosis diabetes dimulai dengan wawancara medis untuk mengetahui gejala, riwayat kesehatan, dan faktor risiko. Tes darah kemudian dilakukan untuk memeriksa kadar glukosa darah, termasuk tes glukosa darah puasa, tes glukosa darah acak, tes A1c (HbA1C), dan tes toleransi glukosa oral. Tes urine dan autoantibodi juga dilakukan untuk membedakan diabetes tipe 1 dan tipe 2.
Penting untuk segera berkonsultasi ke dokter jika ada tanda-tanda diabetes, seperti sering buang air kecil, rasa haus yang berlebihan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau penglihatan kabur. Rutin periksakan gula darah jika memiliki faktor risiko diabetes seperti riwayat keluarga, obesitas, atau kurang aktif bergerak. Deteksi dini dan pengelolaan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko komplikasi.












