Menurut Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC, Pratama Persadha, Indonesia disebut sebagai sumber serangan DDoS terbanyak di dunia berdasarkan laporan Cloudflare. Namun, menjadi ‘sumber’ serangan dalam hal ini tidak selalu berarti adanya pelaku fisik yang berbasis di Indonesia. Secara umum, angka tersebut mencerminkan perangkat yang terinfeksi botnet, infrastruktur yang salah konfigurasi, dan layanan yang digunakan untuk melancarkan serangan.
Dampak dari predikat sebagai juara 1 sarang hacker dapat berdampak negatif secara nasional maupun teknis. Secara nasional, reputasi infrastruktur bisa terganggu dan layanan internasional mungkin menjadi lebih waspada. Di sisi teknis, serangan DDoS hiper-volumetrik membutuhkan mitigasi yang lebih mahal. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan multi-segi yang simultan dan berkelanjutan untuk menanggapi masalah keamanan siber ini.
Langkah-langkah yang dapat diambil termasuk penerapan teknis dan kebijakan yang lebih ketat, seperti egress filtering, peningkatan deteksi lalu lintas abnormal, kerja sama dengan platform mitigasi, perbaikan life cycle produk, penguatan praktik hardening server, dan peningkatan kolaborasi lintas-border. Selain itu, literasi keamanan digital untuk pengguna juga perlu ditingkatkan.
Sementara itu, Cloudflare dalam laporan Q3 DDoS Threat menyebut Indonesia sebagai sumber serangan DDoS tertinggi di dunia selama setahun penuh. Indonesia selalu berada di puncak daftar sumber serangan dan terus meningkat peringkatnya dari waktu ke waktu. Beberapa negara lain di Asia juga termasuk dalam daftar sumber serangan DDoS tersebut.
Dengan demikian, upaya bersama dari pemerintah, industri, dan pengguna rumahan diperlukan untuk mengatasi permasalahan keamanan siber di Indonesia dan mengurangi predikat sebagai juara 1 sarang hacker.










