Pada awal Desember, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dilanda banjir dan longsor akibat Siklon Tropis Senyar. Dampak mengerikan dari bencana ini terlihat dari jumlah korban jiwa yang mencapai 1.006 orang, dengan 212 orang lainnya masih hilang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan data terbaru terkait dengan bencana tersebut. Siklon tropis, seperti yang terjadi di wilayah Sumatra, dipicu oleh faktor-faktor seperti deforestasi dan keberadaan lautan hangat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa siklon tropis adalah badai besar dengan radius rata-rata mencapai 150-200 kilometer. Siklon tropis terbentuk di atas lautan yang hangat dengan angin kencang yang berputar di sekitar pusatnya. Secara teknis, BMKG mendefinisikan siklon tropis sebagai sistem tekanan rendah non-frontal yang tumbuh di atas perairan hangat dengan kecepatan angin minimal 63 km/jam.
Meskipun jarang terjadi di Indonesia, siklon tropis seperti Senyar dan Seroja memberikan dampak signifikan, seperti hujan lebat, peningkatan kecepatan angin, dan gelombang tinggi. BMKG mencatat bahwa perairan hangat di sekitar Indonesia dapat memicu pembentukan siklon tropis. Kehadiran siklon tropis di Indonesia, meskipun jarang terjadi secara geografis, menjadi ancaman nyata yang harus dipantau oleh otoritas terkait.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia semakin terpengaruh oleh siklon tropis. Ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti pemanasan global yang meningkatkan suhu air laut di sekitar Indonesia. Hal ini menyebabkan akselerasi siklus hidrologi, pembentukan awan yang lebih cepat, dan peningkatan fenomena cuaca ekstrem. Dengan perubahan iklim yang semakin ekstrem, pemantauan dan mitigasi terhadap siklon tropis di Indonesia menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dan infrastruktur.










