Perusahaan keamanan siber Kaspersky memprediksi dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap lanskap keamanan siber di tahun 2026. Trend AI mulai dari deepfake hingga peran AI sebagai alat analisis keamanan akan mempengaruhi industri keamanan siber. Di Asia Pasifik, angka profesional yang menggunakan AI setiap minggu lebih tinggi daripada angka global, menunjukkan adopsi AI yang cepat di kawasan tersebut. Adopsi ini didukung oleh populasi yang melek teknologi, dengan konsumen yang sangat terhubung dan penetrasi perangkat yang tinggi.
Asia Pasifik terus berkembang menjadi pusat inovasi AI, menciptakan kondisi yang dinamis bagi perusahaan-perusahaan AI. Perubahan ini mempengaruhi tidak hanya pengguna dan perusahaan tetapi juga lanskap keamanan siber. AI digunakan oleh penyerang untuk mengotomatiskan serangan dan membuat konten palsu yang meyakinkan, sementara pihak pertahanan menggunakan AI untuk mendeteksi ancaman dan membuat keputusan cerdas.
Dampak AI terhadap keamanan siber pada tahun 2026 termasuk peningkatan deepfake menjadi mainstream, kualitas deepfake yang semakin tinggi, serta AI sebagai alat analisis keamanan. Selain itu, model open source yang semakin canggih, batasan antara konten real dan AI yang semakin kabur, dan AI sebagai alat bagi penjahat siber juga menjadi perhatian. Pengembangan ini mempertegas peran AI sebagai faktor penting dalam perubahan lanskap keamanan siber di masa depan.










