Para pakar menyatakan bahwa cuaca ekstrem yang menyebabkan terjadinya badai salju di Amerika Serikat terkait dengan perubahan iklim. Dua pertiga wilayah timur negara tersebut menghadapi ancaman badai musim dingin yang dipicu oleh perubahan iklim. Sistem badai yang dahsyat terbentuk akibat pusaran kutub yang memanjang sebagai akibat dari gelombang di atmosfer bagian atas Arktik dan Siberia yang tertutup salju.
Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh pertemuan suhu sangat dingin di Amerika Serikat dengan uap air dari lepas pantai California dan Teluk Meksiko, yang menyebabkan pembentukan es dan salju yang parah di berbagai wilayah. Massa udara dingin pusaran kutub, yang biasanya terperangkap di Kanada dan Alaska, turut memengaruhi kondisi cuaca tersebut.
Ahli meteorologi Ryan Maue menjelaskan bahwa pola atmosfer yang terkunci di Arktik yang hangat dan benua yang dingin ini berkontribusi dalam pembentukan badai salju di Amerika Serikat. Perubahan iklim di Arktik sejak Oktober 2025 telah menciptakan kondisi yang memanjangkan pusaran kutub dan membawa cuaca musim dingin yang parah ke Amerika Serikat.
Selain itu, hujan salju lebat di Siberia turut memberikan dampak pada pola udara yang berubah, meningkatkan peluang terjadinya peregangan pusaran kutub. Prognosis cuaca memperkirakan bahwa badai salju akan membuat suhu sangat dingin, menyebabkan pemadaman listrik di beberapa wilayah Amerika Serikat.
Salju telah dilaporkan turun di berbagai wilayah seperti Kansan, Texas, Missouri, Iowa, Oklahoma, Tennesse, dan sejumlah daerah lainnya. Pemadaman listrik juga terjadi hingga Sabtu siang, memengaruhi sekitar 130.000 pelanggan di Amerika Serikat. Badan Layanan Cuaca Nasional memperingatkan akan adanya badai salju yang dahsyat di wilayah selatan-tengah, berpotensi memengaruhi sekitar 160 juta warga Amerika Serikat.










