Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan bahwa musim hujan di sejumlah wilayah, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, akan berakhir pada bulan Maret. Diperkirakan musim kemarau akan dimulai pada bulan berikutnya, yaitu pada bulan April. Menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, musim hujan di daerah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan berakhir sekitar Februari sampai Maret, sementara musim kemarau diperkirakan akan dimulai pada April hingga September.
Faktor utama dari hujan lebat yang terus mengguyur sebagian wilayah Indonesia adalah fenomena iklim La Nina yang aktif. BMKG memperkirakan kondisi iklim Tanah Air akan kembali normal mulai bulan April, dengan fenomena La Nina yang saat ini lemah diperkirakan tidak akan menjadi kuat. Setelah La Nina melemah, BMKG memprediksi bahwa kondisi iklim akan normal dari bulan April hingga akhir tahun, tanpa adanya pengaruh El Nino maupun La Nina.
Meskipun La Nina melemah, BMKG tetap mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih tetap ada, terutama pada periode Januari-Maret 2026 yang merupakan puncak musim hujan. Untuk itu, BMKG sedang memperkuat sistem peringatan dini berbasis dampak agar informasi cuaca tidak hanya fokus pada intensitas hujan, tetapi juga potensi risikonya. Selain itu, BMKG menyoroti tantangan perubahan iklim jangka panjang yang ditandai dengan tren kenaikan suhu dan kelembapan udara.












