Kembali terjadi sorotan terhadap sejarah gejolak di selatan Pulau Jawa setelah gempa berkekuatan 6,2 mengguncang Kabupaten Pacitan pada Jumat dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa ini merupakan jenis megathrust, yang berasal dari pergerakan subduksi lempeng tektonik dengan gerakan naik pada kedalaman yang dangkal.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyampaikan rasa syukur bahwa gempa Pacitan ini tidak mencapai magnitudo 7,0 yang berpotensi memicu tsunami. Namun, sejarah kegempaan menunjukkan bahwa wilayah Pacitan pernah diguncang tsunami akibat gempa besar. Dua peristiwa tsunami tercatat pada tahun 1840 dan 1859, yang menghantam pesisir selatan Pacitan, menunjukkan risiko tsunami dari aktivitas megathrust di selatan Jawa.
Pulau Jawa dikelilingi oleh zona megathrust yang berpotensi menyebabkan gempa dan tsunami. Data Peta Sumber dan Bahaya Gempa BMKG tahun 2024 menunjukkan tiga segmen megathrust utama di sekitar Pulau Jawa yang menjadi sumber ancaman seismik. Meskipun beberapa segmen megathrust dihapus dari daftar aktif setelah evaluasi terbaru, seperti di wilayah Sumatera dan Jawa, tetapi penting untuk terus memantau aktivitas seismik di berbagai zona tersebut.
Dalam pembaruan terbaru, fokus tetap pada wilayah Jawa dan Sumatera karena tingginya konsentrasi populasi dan infrastruktur. Peneliti menekankan perlunya terus memantau dan mengevaluasi ulang aktivitas seismik di daerah-daerah tersebut seiring dengan data baru yang tersedia di masa depan. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan kewaspadaan terhadap potensi gempa dan tsunami di wilayah-wilayah tersebut tetap menjadi prioritas utama.












