Penggunaan Feses sebagai Obat: Bukti Kuat di Era Romawi

Sebuah kelompok ilmuwan asal Turki telah menemukan bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa bangsa Romawi kuno menggunakan kotoran manusia sebagai pengobatan medis. Temuan ini menguatkan praktik tersebut berdasarkan teks-teks Romawi yang sebelumnya telah menggambarkannya. Para peneliti menyatakan bahwa ini adalah kali pertama bukti fisik praktik ini terdokumentasikan dalam Journal of Archaeological Science: Reports yang terbit pada 19 Januari. Arkeolog Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet di Turki menemukan sisa-sisa zat dalam botol kaca Romawi, dikenal sebagai unguentaria, di Museum Bergama selama penelitian untuk buku ‘Glass Objects from Bergama Museum’. Setelah menemukan sisa-sisa di tujuh wadah yang berbeda, hanya satu artefak yang menghasilkan hasil pasti dari kota kuno Pergamon yang berasal dari abad kedua. Hasil analisis menunjukkan bahwa isinya terdiri dari kotoran manusia, thyme dengan konsentrasi tinggi, dan minyak zaitun yang diidentifikasi sebagai ramuan obat yang digunakan oleh dokter Romawi terkenal Galen. Galen dikenal sebagai pionir anatomi yang memiliki pengaruh kuat selama 1.500 tahun dan telah melayani tiga kaisar Romawi. Para penulis studi tersebut mengungkap bahwa feses manusia dan hewan telah dikenal sebagai pengobatan untuk berbagai kondisi berdasarkan teks-teks kuno. Temuan ini memberikan bukti bahwa praktik medis yang sebelumnya hanya diketahui dari sumber tertulis kuno sekarang telah dibuktikan secara fisik melalui benda arkeologi. Profesor emeritus sejarah kuno sependapat bahwa temuan ini sangat solid secara ilmiah dan mengaitkan tradisi tersebut dengan materi arkeologis memberikan pandangan yang menarik. Penemuan ini juga menggali kemungkinan bahwa botol kaca tersebut ditemukan di sebuah makam yang dikubur bersama seorang dokter atau pasien, memperluas penelitian sebelumnya tentang keterampilan kuno dalam pengobatan.

Source link