Skandal Mata-mata Infrastruktur Cloud Microsoft di Gaza
Jakarta, CNN Indonesia — Skandal baru-baru ini mengenai penggunaan infrastruktur cloud Microsoft yang diduga digunakan untuk memata-matai warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat telah menjadi sorotan. Laporan investigasi mengungkap bahwa badan intelijen Israel menggunakan server Microsoft untuk operasi pengawasan massal komunikasi.
General Manager Microsoft Israel Dicopot
Melansir dari TRT World pada Rabu (13/5), akibat skandal ini, General Manager Microsoft Israel, Alan Haimovich, telah dicopot dari jabatannya setelah empat tahun menjabat. Ia dijadwalkan meninggalkan perusahaan pada akhir bulan ini, dan hingga penggantinya ditunjuk, operasional Microsoft Israel akan dipimpin oleh manajemen Microsoft Prancis.
Investigasi yang dilakukan oleh The Guardian dan +972 Magazine menemukan bahwa server Microsoft digunakan untuk menyimpan rekaman panggilan telepon warga Palestina secara diam-diam. Kesepakatan ini dilakukan antara CEO Microsoft, Satya Nadella, dan komandan Unit 8200 Israel, Yossi Sariel pada tahun 2021.
Skala Infrastruktur dan Penggunaan Server Microsoft
Per Juli 2025, lebih dari 11.500 terabyte data, yang setara dengan sekitar 200 juta jam audio, tersimpan di pusat data Azure Microsoft di Belanda dan Irlandia. Sistem ini dapat menyimpan dan memproses rekaman sekitar satu juta panggilan per jam dari warga Palestina.
Karyawan Microsoft bekerjasama dengan kontraktor militer Israel untuk membangun arsitektur keamanan yang dirancang khusus untuk proyek ini. Platform cloud ini digunakan untuk mempersiapkan serangan udara dan operasi militer di Gaza dan Tepi Barat, serta menjadi dasar untuk pengembangan alat penargetan berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti Gospel dan Lavender.
Meskipun adanya penolakan dari dalam Microsoft terkait etika penggunaan Azure untuk pengawasan militer, keputusan untuk menonaktifkan sebagian teknologi bagi Unit 8200 merupakan hasil dari kampanye ‘No Azure for Apartheid’. Sejumlah karyawan Microsoft mengorganisir petisi dan aksi langsung sebagai bentuk protes terhadap penggunaan teknologi perusahaan untuk tujuan tersebut.
Tinjauan internal Microsoft menemukan kurangnya transparansi dan kegagalan manajemen yang merusak kepercayaan antara kantor pusat Microsoft dan cabangnya di Israel.












