China dan Negara Asia Tengah Bangun Konstelasi Satelit untuk Pantau Bencana
Jakarta, CNN Indonesia — China bersama sejumlah negara Asia Tengah menandatangani perjanjian kerja sama teknologi. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan konstelasi satelit berupa jaringan pemantauan berbasis ruang angkasa guna berbagi data penginderaan jauh. Kesepakatan itu ditandatangani pada Kamis (25/6) dalam gelaran China-Eurasia Expo ke-9 yang sedang berlangsung di Urumqi, Ibu Kota Daerah Otonom Uygur Xinjiang di China bagian barat laut.
Manfaat dan Perkembangan Konstelasi Satelit untuk Bencana Alam
Salah satu kegunaannya, untuk menangani berbagai ancaman geologis yang sama-sama dialami, seperti gempa bumi, hama pertanian, hingga banjir akibat pencairan gletser. Jaringan pemantauan berbasis ruang angkasa itu diberi nama “Tianwu Constellation” dan akan dimulai dengan sistem awal yang terdiri atas lima satelit.
Kolaborasi China dan Negara Asia Tengah
Sejumlah ilmuwan dari Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan hadir dalam upacara penandatanganan tersebut. Mereka menyatakan optimisme bahwa proyek bersama ini akan membawa manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat. Tong Qingxi, pakar penginderaan jauh dari Akademi Ilmu Pengetahuan China, mengatakan Xinjiang memiliki kondisi geografis serta ancaman geologi yang mirip dengan negara-negara Asia Tengah, termasuk gempa bumi, longsor, dan banjir yang dipicu pencairan gletser.
“Itu merupakan penerapan praktis dari kerja sama Belt and Road serta upaya bersama untuk membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia,” kata Tong. Proyek ini menunjukkan makin eratnya kolaborasi China dan negara-negara Asia Tengah dalam pemanfaatan teknologi untuk menghadapi tantangan lingkungan dan bencana alam di kawasan.
Data satelit yang dikumpulkan dari kawasan tersebut akan diproses di pusat komputasi di Xinjiang. Dari sana, model kecerdasan buatan atau AI akan dikembangkan untuk memprediksi bencana geologis, mendeteksi hama pertanian, serta memantau pencairan gletser.
Akobir Mirzorakhimzoda, Wakil Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Tajikistan, menilai penguasaan teknologi canggih seperti jejaring satelit dan AI memungkinkan pemantauan serta analisis indikator lingkungan secara real time. Menurut dia, hal itu akan menjadi dasar yang andal untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat.












