BMKG: Jakarta Tak Aman dari Ancaman Gempa Besar
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengingatkan bahwa Jakarta tidak luput dari risiko gempa besar. Dalam acara Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) Nasional 2025, Faisal menyatakan hal ini kepada lebih dari 1.000 peserta dari berbagai daerah.
Sejarah mencatat bahwa Jakarta bukanlah zona bebas gempa. Pengalaman kerusakan akibat gempa sebelumnya, seperti pada tahun 1668, 1780, 1834, dan 1903, menjadi alarm bagi masyarakat. BMKG menegaskan bahwa kawasan Jakarta memiliki risiko gempa yang signifikan, mengingat dekat dengan sumber gempa aktif dan terdapat tanah dengan sedimen lunak yang rentan terhadap guncangan kuat.
Pentingnya membangun budaya kesiapsiagaan sebelum terjadi bencana menjadi sorotan BMKG. Kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi pendidikan, media, dan masyarakat diharapkan bisa menguatkan upaya mitigasi tanpa menunda-nunda. Data BMKG menunjukkan adanya zona megathrust yang mengelilingi Jakarta, seperti Megathrust Jawa Barat, Megathrust Selat Sunda, dan sesar aktif di daratan.
Megathrust Jawa Barat memiliki sejarah aktivitas gempa kuat, dengan peristiwa signifikan pada tahun 1903 dan 2006. Sementara Megathrust Selat Sunda tercatat pernah mengalami gempa besar pada tahun 1757. Adapun sesar aktif di dekat Jakarta, seperti sesar Baribis, sesar Cimandiri, dan sesar Lembang, juga menjadi fokus perhatian BMKG dalam memitigasi risiko gempa di wilayah Jakarta.
Kepala BMKG menegaskan bahwa keselamatan hanya bisa terwujud jika semua pihak bersama-sama membangun kesiapsiagaan sejak dini. Melalui kesadaran akan ancaman gempa dan upaya mitigasi yang tepat, Jakarta bisa menjadi lebih siap menghadapi ancaman gempa bumi di masa depan.










