Pergerakan besar-besaran dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui Latihan Terintegrasi TNI 2025 yang berlangsung di Kepulauan Bangka Belitung pada Rabu (19/11/2025), yang melibatkan tiga matra — Angkatan Darat, Laut, dan Udara — dengan lebih dari 68 ribu personel. Pelatihan sejenis juga diwujudkan hampir bersamaan di Morowali, memperlihatkan reaksi langsung terhadap instruksi Presiden Prabowo untuk menjaga sumber daya strategis nasional dari maraknya praktik penambangan ilegal.
Presiden Prabowo sebelumnya menyoroti keberadaan lebih dari 1.000 lokasi tambang timah ilegal di Bangka Belitung, di mana aktivitas tersebut telah menyebabkan penurunan besar produksi timah nasional hingga 80 persen dan memicu kerusakan lingkungan yang parah. Atas kondisi ini, pemerintah menganggap perlindungan aset negara menjadi urusan mendesak yang perlu diperkuat tidak hanya oleh aparat penegak hukum, tetapi juga oleh kekuatan militer.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menekankan bahwa latihan militer ini memiliki misi lebih dari sekadar pameran kekuatan atau alat utama sistem pertahanan; latihan adalah bentuk ketegasan negara atas kendali dan aturan di wilayahnya. Ia menambahkan, negara harus bisa memastikan penertiban sektor pertambangan agar kekayaan alam yang dimiliki benar-benar dikelola untuk kesejahteraan bangsa dan terhindar dari pencurian oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Uji Pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang bersama dengan Menteri Pertahanan, Menteri ESDM, Jaksa Agung, dan Kepala BPKP menuturkan latihan kali ini dimanfaatkan sebagai ajang pengujian doktrin OMSP (Operasi Militer Selain Perang). Jenderal Agus menyoroti pentingnya aspek perlindungan sumber daya nasional yang kini diposisikan setara dengan peran TNI menjaga batas-batas kedaulatan negara. Dalam kesempatan ini, ia menegaskan latihan di Bangka Belitung dan Morowali difokuskan pada strategi menjaga objek vital nasional yang rawan dijarah kelompok penambang ilegal.
Sebagai langkah nyata, Presiden Prabowo menginstruksikan agar jajaran TNI menutup seluruh jalur peredaran mineral hasil tambang ilegal. Presien menuntut pengawasan ketat atas arus keluar-masuk komoditas di Pulau Bangka dan Pulau Belitung guna memastikan bahwa negara dapat mengontrol sepenuhnya apa yang terjadi di wilayah tersebut.
Demonstrasi Pengamanan Aset dan Pencegahan Eksploitasi Ilegal
Serangkaian manuver militer ditampilkan dalam bentuk simulasi serangan udara menggunakan tiga pesawat F-16 dari Wing Udara 31 lalu diikuti aksi penerjunan personel dari Batalyon 501/Bajra Yudha Kostrad. TNI AL juga menggelar simulasi penangkapan ponton tambang ilegal melalui dua KRI serta latihan perebutan cepat lokasi tambang oleh pasukan khusus Koopssus TNI. Selain itu, Menhan dan Panglima secara langsung menginspeksi hasil sitaan ponton ilegal di Pelabuhan Belinyu dan melihat dari dekat lokasi penambangan pasir di Dusun Nadi.
Mobilisasi besar kekuatan TNI dalam latihan kali ini diinterpretasikan sebagai pesan kuat bahwa pengamanan sumber daya alam tidak hanya soal upaya hukum, namun juga merupakan esensi menjaga kedaulatan dan integritas bangsa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa institusi militer memiliki peran sentral dalam urusan strategis perlindungan aset vital negara.
Pemilihan Kepulauan Bangka Belitung sebagai pusat latihan diambil melalui kalkulasi strategis, karena wilayah tersebut bukan hanya kaya akan komoditas vital tetapi juga memiliki nilai geografis yang tinggi bagi keamanan nasional dan ekonomi. Oleh sebab itu, kehadiran TNI di daerah rawan ini diharapkan semakin memperkuat kemampuan negara dalam menjaga dan menyelamatkan kekayaan nasional dari tangan penggerogot bangsa.
Sumber: TNI Siap Perang Lawan Mafia Tambang: Latihan Gabungan Besar Di Bangka Belitung Uji Doktrin OMSP
Sumber: TNI Gelar Latihan Gabungan, Kirim Sinyal Perang Ke Mafia Tambang Ilegal












