Indonesia Perlu Mengantisipasi Serangan Siber Berbasis AI

Pada konferensi International Postgraduate Student Conference (IPGSC) 2025 yang diadakan oleh Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, isu-isu strategis mengenai kecerdasan buatan (AI), siber, dan geopolitik menjadi sorotan utama. Dalam kesempatan tersebut, Raden Wijaya Kusumawardhana, selaku Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, tampil mewakili Menteri Komunikasi dan Digital untuk membahas tantangan kritis di era digital yang terus berkembang pesat.

Ia membuka pembahasan dengan menyoroti fenomena bahwa saat ini algoritma dan data telah menjelma menjadi kekuatan utama yang menentukan posisi suatu negara dalam peta kekuasaan global. Transformasi ini, menurutnya, membuat setiap negara berlomba-lomba membangun ekosistem digital yang tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, namun juga memperkuat status geopolitik secara internasional.

Raden Wijaya secara khusus mengulas kasus teknologi DeepSeek yang berasal dari Tiongkok, yang telah menunjukkan bahwa negara-negara di luar dominasi Barat kini mampu menciptakan lompatan-lompatan besar di bidang AI dengan investasi yang relatif lebih kecil. Dampaknya, dinamika pasar AI dunia berubah dalam waktu singkat dan persaingan antara negara inovator semakin tajam.

Selain itu, ia menyoroti bahwa konflik bersenjata dewasa ini—seperti ketegangan antara Iran dan Israel serta perang di Ukraina dan Rusia—telah memperlihatkan bagaimana AI digunakan tidak hanya dalam proses analisis ataupun pertahanan tradisional, melainkan juga pada sistem persenjataan canggih yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk operasi lapangan.

Raden Wijaya memperjelas bahwa peran AI kini jauh lebih luas dari sekadar inovasi teknologi; AI telah menjadi alat persaingan kekuatan yang dapat menentukan siapa yang bisa menetapkan standar dunia dan siapa yang menjadi pengikut. Fenomena ini diperparah oleh ketergantungan pada teknologi microchip serta potensi bahaya jika teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Ia lalu memaparkan beberapa karakteristik utama ancaman siber di masa kini. Menurutnya, teknologi digital kini bersifat dua muka: apa yang dikembangkan untuk sektor sipil bisa dengan mudah diadopsi untuk keperluan ofensif oleh negara ataupun pelaku lain yang tidak diatur negara. Perlindungan terhadap data dan infrastruktur digital kini tidak lagi cukup hanya dengan strategi teknis, namun membutuhkan pendekatan komprehensif yang melibatkan kebijakan, diplomasi, dan kesiapsiagaan masyarakat.

Ia menekankan bahwa kendati negara dengan teknologi tinggi memiliki peluang lebih besar untuk melakukan serangan tepat sasaran ke infrastruktur negara lain, kelompok kecil sekalipun dapat menciptakan kerusakan signifikan melalui teknik-teknik baru seperti botnet ataupun penyebaran malware. Asimetri ancaman di dunia maya ini menyebabkan sistem pertahanan tradisional menjadi kurang relevan dan mendorong negara membangun mekanisme pencegahan baru.

Karakter lain dari ancaman siber yang dibahas adalah kerumitan dalam identifikasi pelaku. Banyak serangan dilakukan secara terselubung menggunakan pihak ketiga atau aktor bayangan, sehingga negara yang menjadi korban seringkali kesulitan membuktikan secara pasti siapa yang berada di balik aksi tersebut. Dengan adanya AI, ancaman ini menjadi semakin nyata karena teknologi tersebut bisa digunakan untuk mengotomasi serangan dan memperbesar skala disinformasi serta manipulasi opini publik.

Peran AI dalam operasi informasi juga menjadi perhatian utama. AI generatif sanggup menciptakan hoaks dan propaganda dengan cara yang masif dan efektif, serta dapat digunakan untuk memengaruhi masyarakat secara psikologis maupun ideologis. Hal ini berpotensi melemahkan pemerintahan, mengganggu ketertiban publik, dan merusak kepercayaan masyarakat pada institusi negara.

Raden Wijaya menegaskan betapa pentingnya Indonesia segera memperkuat fondasi ketahanan siber nasional, mengingat bahwa ancaman digital dewasa ini bukan sekadar masalah teknis semata, melainkan persoalan strategis yang berimplikasi langsung pada kedaulatan negara, keamanan nasional, serta stabilitas politik dan ekonomi.

Ia turut menyarankan agar upaya memperkuat posisi Indonesia dalam kompetisi AI global tidak hanya terfokus pada mengejar kemajuan inovasi, namun juga memastikan keamanan ekosistem digital nasional secara menyeluruh. Proses pengembangan riset AI, pelatihan talenta digital unggul, pembangunan infrastruktur mikroprosesor dalam negeri, serta perlindungan infrastruktur penting, dianggap sebagai hal mutlak demi menjaga kedaulatan digital Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Dalam akhir pemaparannya, Raden Wijaya mengingatkan bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga dan melindungi teknologi yang dimiliki, bukan hanya oleh pencapaian inovasi semata. Hanya negara yang dapat mengelola, mengamankan, dan mempertahankan teknologi dengan visi kebangsaan yang kuat, yang mampu bertahan dan bersaing di dunia internasional yang semakin kompetitif dan tak menentu.

Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global
Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global