Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melaporkan tentang fenomena La Nina yang telah kembali terjadi di Samudra Pasifik mulai bulan September hingga Desember. NOAA memperkirakan bahwa La Nina kemungkinan akan berlanjut selama satu hingga dua bulan ke depan. Meskipun La Nina kali ini tergolong lemah, dampaknya terhadap cuaca menjadi sulit diprediksi.
Seperti yang dikemukakan oleh NASA Earth Observatory, La Nina terjadi karena angin pasat timur yang kuat memicu naiknya air dingin dari dasar laut di Pasifik tropis timur. Proses ini menyebabkan penurunan suhu di Pasifik ekuatorial tengah dan timur, serta mengarahkan air hangat ke arah barat menuju Asia dan Australia.
Satelit Sentinel-6 Michael Freilich yang diolah oleh JPL NASA mengindikasikan penurunan tinggi permukaan laut di Pasifik tengah dan timur akibat air dingin yang lebih padat. Meski La Nina biasanya mempengaruhi pola curah hujan global, kali ini prediksi cuaca sulit dilakukan karena intensitasnya yang lemah.
NOAA Climate Prediction Center mengonfirmasi bahwa suhu permukaan laut di bawah rata-rata terkait dengan La Nina. Di Indonesia, BMKG memperkirakan bahwa La Nina akan terus berlangsung hingga awal tahun depan, memberikan potensi peningkatan curah hujan dengan intensitas tinggi. BMKG juga menegaskan bahwa kawasan Indonesia bagian tengah dan timur berpeluang mengalami hujan lebat.
Meskipun transisi ke fase ENSO-netral masih mungkin terjadi pada awal tahun 2026, kondisi La Nina lemah ini bisa membawa dampak cuaca yang sulit diprediksi. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan cuaca melalui InfoBMKG sebelum beraktivitas. Dengan demikian, Indonesia dapat bersiap menghadapi potensi perubahan cuaca yang disebabkan oleh fenomena La Nina.










