Temuan dari ekspedisi OceanX di perairan Indonesia mengungkapkan bahwa 93 persen habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatra berada di luar area konservasi. Hasil survei ini dianggap dapat memberikan kontribusi penting terhadap perencanaan konservasi di masa depan. Menurut Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, survei ini mengisi kekosongan data yang selama ini menjadi hambatan dalam pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia. Temuan dari misi OceanX Indonesia Mission yang dikerjakan sama dengan Konservasi Indonesia dan BRIN baru-baru ini dipublikasikan dalam Frontiers in Marine Science.
Survei yang dilakukan untuk pertama kalinya di perairan barat Sumatra ini melibatkan survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean). Wilayah ini sebelumnya kurang diperhatikan meskipun memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Para peneliti mencatat 77 penemuan dari 10 spesies cetacean selama ekspedisi ini. Dengan memadukan data historis, kini jumlah spesies cetacean dokumentasi di kawasan ini mencapai 23 spesies, setara dengan 68 persen total cetacean yang diketahui di Indonesia.
Analisis dari pola sebaran cetacean menunjukkan adanya tujuh klaster habitat berbeda yang terbentuk akibat kondisi dasar laut dan produktivitas perairan yang berbeda. Temuan ini menekankan pentingnya dinamika oseanografi dalam menentukan wilayah yang dimanfaatkan oleh paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatra. Hotspot kepadatan tinggi, terutama didominasi oleh dolphin, teridentifikasi terutama di luar kawasan konservasi.
Selain itu, peneliti juga menemukan tumpang tindih yang signifikan antara habitat cetacean dengan aktivitas perikanan intensif dan lalu lintas maritim. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko bagi spesies tertentu seperti paus pembunuh, paus Omura, dan paus sperma yang termasuk dalam kategori spesies terancam punah. Data ilmiah yang akurat dan terkini di perairan Indonesia sangat penting untuk mendukung upaya pengelolaan dan konservasi yang efektif di wilayah ini.
Temuan ekspedisi ini juga menegaskan pentingnya perlindungan spasial yang terarah, perencanaan ruang laut adaptif, serta langkah mitigasi spesifik per spesies demi mencapai target 30×45. Program inisiatif nasional Blue Halo S juga diperkuat dengan temuan ini, fokusnya pada tata kelola perikanan, perlindungan habitat laut penting, dan pengembangan ekonomi biru berkelanjutan di perairan barat Sumatra. Kehadiran riset semacam ini dianggap menjadi jawaban atas tantangan dalam pengelolaan dan konservasi spesies cetacean di perairan Indonesia, yang sebelumnya terkendala oleh keterbatasan data ilmiah yang diperlukan.










