Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan sangat serius pada Senin (23/3) terkait perubahan iklim. Menurut laporan tahunan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), tahun 2025 menjadi rekor tertinggi dalam sejarah dengan suhu Bumi yang semakin panas. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa kondisi ini merupakan tanda bahaya besar dan menyerukan tindakan segera. Laporan WMO juga menyoroti ketidakseimbangan energi serta polusi gas rumah kaca yang menyebabkan panas terperangkap di Bumi.
Aktivitas manusia disebut-sebut sebagai faktor utama dalam merusak keseimbangan alam, dengan lebih dari 91 persen panas yang tersimpan di dalam lautan. Perubahan iklim juga terlihat dari suhu air laut yang mencapai rekor tertinggi, badai tropis yang lebih kuat, dan mencairnya es di kutub secara cepat. Meskipun ada fenomena alam yang dapat mendinginkan suhu, 2025 tetap menjadi salah satu tahun terpanas.
John Kennedy dari WMO memperingatkan kemungkinan lonjakan suhu lebih tinggi pada 2027 jika fenomena pemanas El Nino muncul kembali. Guterres juga menyebut krisis iklim terkait dengan situasi dunia yang dilanda perang dan kenaikan harga bahan bakar. Dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil, stabilitas iklim dan keamanan dunia terancam.
Laporan ini menjadi pengingat bahwa tindakan nyata untuk mengurangi emisi harus segera dilakukan demi keselamatan generasi mendatang. Tidak ada waktu untuk menunda, keputusan untuk bertindak harus diambil sekarang demi menjaga keseimbangan alam dan keberlangsungan hidup Bumi.










