Iran Rencanakan Penghancuran Starlink: Ancaman Terbaru di Ruang Angkasa

Di tengah gelombang protes anti-pemerintah dan pemadaman internet nasional yang meluas, Iran meningkatkan tekanan dengan menetapkan layanan internet satelit Starlink sebagai “target sah”. Media pemerintah melalui Kantor Berita Fars bahkan merilis infografis yang memetakan keberadaan infrastruktur Starlink di sejumlah negara kawasan seperti Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Laporan tersebut memperingatkan bahwa jaringan tersebut berisiko menjadi sasaran seiring meningkatnya konflik. Di dalam negeri, penggunaan Starlink tetap dilarang dan dapat berujung hukuman penjara. Namun di tengah pemutusan komunikasi, layanan milik Elon Musk melalui SpaceX itu justru dilaporkan menyediakan akses internet gratis bagi warga Iran menjadi jalur penting untuk menyebarkan foto dan video protes ke dunia luar.

Peran krusial Starlink semakin terlihat saat pemerintah Iran memblokir sebagian besar akses internet, dan warga mengandalkan proxy dan terminal Starlink untuk tetap terhubung. Meski tanpa izin resmi, ribuan perangkat dilaporkan telah diselundupkan sejak 2022, bertepatan dengan protes besar pasca kematian Mahsa Amini. Berbeda dari sebelumnya, Iran kini juga aktif mengganggu sinyal Starlink dan menyita perangkatnya. Sementara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperluas ancaman terhadap perusahaan teknologi Amerika Serikat, menyoroti peran infrastruktur teknologi komersial dalam konflik geopolitik global. Teknologi sipil seperti Starlink membuka akses informasi di tengah pembatasan ketat, namun di sisi lain, menimbulkan perdebatan soal kedaulatan digital. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi kini berada di garis depan persaingan geopolitik global.

Source link