112 Anak Terpapar Aksi Radikalisme melalui Gim Roblox

Anak-Anak Rentan Pada Perekrutan Aksi Radikalisme di Roblox

Jakarta, CNN Indonesia — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono mengungkap bagaimana jaringan radikal dan terorisme berupaya melakukan perekrutan di ruang digital, salah satunya lewat gim Roblox. Ia mengatakan beberapa waktu lalu pihaknya menemukan 112 anak yang terindikasi menjadi sasaran perekrutan aksi radikal dan terorisme di Roblox. Dari 112 anak tersebut, satu orang anak bahkan disebut siap melakukan penyerangan terhadap sebuah institusi, karena doktrin terorisme tersebut.

Perekrutan Melalui Fitur Chat di Gim Roblox

Eddy menjelaskan proses perekrutan terhadap anak-anak ini dilakukan dengan memanfaatkan fitur komunikasi yang ada di dalam gim. Menurutnya, fitur chat dalam Roblox menjadi sarana yang digunakan untuk melakukan digital grooming terhadap anak-anak yang rentan.

“Di dalam gim ada fitur chatnya jadi sambil bermain mereka sangat bisa berkomunikasi. Di sinilah yang bisa dijadikan sarana untuk kalau istilah kami adalah digital grooming,” kata Eddy di Kantor Komdigi, Jakarta, Kamis (30/4).

Saat ini, 112 anak dari 27 provinsi sedang dalam tahap rehabilitasi untuk menghindari terpaparnya radikalisme dan terorisme. Proses pendekatan juga dilakukan dengan lingkungan anak-anak tersebut agar mereka tidak lagi rentan terhadap ancaman tersebut.

Penutup Fitur Komunikasi dalam Roblox

Roblox telah menutup fitur komunikasi untuk pengguna anak guna mematuhi Peraturan Pemerintah (PP) Tunas. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap temuan yang membuktikan risiko perekrutan aksi radikalisme di platform gim tersebut.

Komunikasi dengan orang tak dikenal menjadi fokus utama penutupan fitur chat tersebut. Untuk memastikan kepatuhan, Roblox akan melakukan verifikasi usia bagi seluruh penggunanya. Usia di bawah 16 tahun akan dibatasi dalam fitur komunikasi untuk melindungi mereka dari potensi penyalahgunaan.

Ke depan, Komdigi akan terus melakukan evaluasi terhadap kepatuhan platform-platform digital terkait PP Tunas. Hal ini merupakan langkah proaktif untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme di kalangan anak-anak di Indonesia. Semoga dengan langkah-langkah tersebut, generasi muda Indonesia dapat terlindungi dari ancaman yang tak terlihat namun nyata.

Source link