Asal Uranium & Proses Menjadi Bahan Bakar Nuklir

Iran Setujui Proposal AS terkait Uranium

Jakarta, CNN Indonesia — Dalam tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, isu seputar uranium menjadi titik fokus perhatian dunia. Teheran telah menyatakan persetujuannya untuk mengurangi dan memindahkan uranium yang sudah diperkaya ke negara ketiga sebagai tanggapan terhadap proposal damai dari Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik tersebut.

Seorang sumber yang mengetahui perkembangan terkait masalah ini mengatakan bahwa Iran sepakat dengan proposal tersebut, namun dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Iran menuntut jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan jika negosiasi gagal. Mereka juga menolak untuk membongkar fasilitas nuklir mereka.

Asal Usul Uranium dan Proses Pengayaannya

Uranium berasal dari bumi dan ditemukan dalam bentuk bijih. Bijih uranium kemudian diambil dari bumi dan diubah menjadi bentuk gas agar bisa diperkaya untuk kepentingan nuklir, baik itu untuk keperluan damai maupun militer. Beberapa negara seperti Australia, Kanada, Kazakhstan, Namibia, dan Rusia menjadi penyumbang utama dua pertiga pasokan uranium dunia.

Uranium sendiri terdiri dari dua isotop utama, yaitu uranium-235 (U-235) dan uranium-238 (U-238). Isotop U-235 sangat penting karena dapat mengalami reaksi fisi, sedangkan U-238 tidak dapat. Oleh karena itu, negara-negara yang memiliki program nuklir perlu melakukan proses pengayaan uranium untuk meningkatkan kadar U-235-nya.

Proses pengayaan uranium umumnya dilakukan melalui sentrifugasi gas. Uranium diubah menjadi bentuk gas, kemudian dimasukkan ke dalam sentrifugasi yang berputar dengan kecepatan tinggi untuk memisahkan kedua isotop tersebut. Ada dua jenis tingkat pengayaan uranium, yaitu Low Enriched Uranium (LEU) dengan kadar U-235 di bawah 20 persen yang biasanya digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, dan Highly Enriched Uranium (HEU) dengan kadar U-235 di atas 20 persen yang banyak digunakan untuk tujuan militer.

Proses pengayaan uranium hingga tingkat senjata (biasanya minimal 90 persen) memungkinkan pengembangan senjata nuklir dengan cepat. Hal ini membuat pemantauan aktivitas nuklir suatu negara menjadi sangat sulit dilakukan.

Source link