Serangan Siber Taiwan: China Dituduh Sebagai Dalang

Taiwan Diserang Siber dengan Kecerdasan Buatan, China Diduga Dalangnya

Taiwan baru-baru ini mendeteksi serangan siber yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang ditujukan kepada beberapa lembaga pemerintah pada bulan Juli. Serangan ini disebut sebagai serangan “abnormal” dan pemerintah Taiwan telah mengeluarkan serangkaian peringatan selama penyelidikan berlangsung.

Diduga China sebagai Pelakunya

Meskipun pejabat Taiwan tidak secara langsung menuding China, perusahaan AI asal Israel, Dream, menuduh bahwa China berada di balik serangan tersebut. Dream menduga bahwa hacker terkait dengan China berada di balik serangan tersebut berdasarkan penggunaan bahasa China Sederhana dalam komunikasi internal yang terkait dengan peretasan. Selain itu, Dream menjelaskan bahwa penyerang menggunakan agen AI open-source untuk membangun perangkat peretasan otonom yang berhasil membobol banyak akun pengguna pemerintah Taiwan.

Selain itu, serangan juga meluas ke institusi keselamatan nuklir Taiwan dan tujuh perusahaan energi. National Institute of Cyber Security Taiwan menyatakan bahwa serangan ini memiliki karakteristik yang jelas berasal dari luar negeri dan menggunakan pendekatan campuran antara operasi manual dan serangan berbantuan agen AI.

Peningkatan Ancaman dari China

Taiwan telah beberapa kali menuduh China melakukan berbagai tindakan agresif, termasuk dalam ranah siber. Badan Keamanan Nasional Taiwan mengungkapkan bahwa serangan siber China terhadap infrastruktur penting di Taiwan meningkat 6 persen dalam setahun, dengan rata-rata 2,63 juta kali per hari. Ancaman serangan siber semakin berkembang dalam beberapa bulan terakhir karena adanya laboratorium AI yang merilis model-model baru yang mampu melakukan pengintaian, mencari kerentanan, dan mengeksploitasi dengan cepat.

Pemerintah Taiwan telah mengeluarkan pedoman perlindungan dan memperkuat pemantauan sistem untuk menghadapi ancaman serangan siber yang semakin berkembang. Meskipun serangan ini masih dalam penyelidikan, China belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.

Source link