Penelitian terbaru menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di Bulan terus berlangsung, dengan potensi dampak terhadap lingkungan permukaannya. Para peneliti dari tim National Air and Space Museum telah berhasil menyusun peta global pertama bukit kecil di laut Bulan sebagai bukti aktivitas tektonik yang sedang berlangsung. Mengutip dari Science Daily, studi ini menjadi pendekatan pertama dalam mendokumentasikan bukit-bukit ini yang relatif muda dan tersebar luas di seluruh lunar maria, sebuah dataran rendah basalitik yang luas, gelap, dan halus di permukaan Bulan.
Perbedaan antara gempa Bulan dan Bumi juga disorot dalam penelitian ini. Meskipun keduanya mengalami kekuatan tektonik, Bulan dan Bumi berperilaku secara berbeda. Bumi memiliki lempeng tektonik yang ditindih, terpisah, dan bergesekan, membentuk berbagai fitur geologi seperti pegunungan, palung laut, dan aktivitas vulkanik. Sementara itu, Bulan tidak memiliki lempeng tektonik, sehingga tegangan di dalamnya terus bertumpuk dan menghasilkan bentuk permukaan yang unik.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa Bulan mengalami penyusutan secara bertahap, dengan pembentukan berbagai fitur seperti tebing berlekuk dan bukit kecil di laut Bulan (SMRs). SMRs terbentuk dari gaya kompresi yang sama dengan pembentukan tebing berlekuk, tetapi terjadi di lunar maria. Tim peneliti berhasil mengidentifikasi dan memetakan 1.114 segmen SMR yang sebelumnya belum teridentifikasi di Bulan, menambah pemahaman tentang geologi Bulan yang dinamis.
Selain menyoroti aspek geologis Bulan, penelitian ini juga memiliki implikasi terhadap misi eksplorasi Bulan di masa depan. Potensi gempa Bulan di lokasi pendaratan misi Bulan dapat mempengaruhi keselamatan astronaut dan keberhasilan misi ilmiah. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang aktivitas tektonik Bulan dan potensi gempa di masa depan, para ilmuwan dapat meningkatkan keselamatan dan kesuksesan misi eksplorasi Bulan yang akan datang, seperti Artemis.










