Diskusi HI UI Bahas Reformasi Sektor Keamanan

Dalam suasana perkuliahan yang interaktif, Program Magister Hubungan Internasional di Universitas Indonesia pada 4 Maret 2026 mengadakan forum akademik dengan topik mendalam tentang profesionalisme dan perkembangan karier militer. Acara ini menjadi bagian dari mata kuliah Reformasi Sektor Keamanan dan diformat sebagai diskusi terbuka dengan tema besar “Pola Karir dan Profesionalisme Militer”.

Para narasumber yang hadir kali ini terdiri atas Dr. rer. pol. Aditya Batara Gunawan selaku Ketua Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie, serta dua peneliti yaitu Beni Sukadis, M.Si. dari Lesperssi dan Yudha Kurniawan, M.A. dari Laboratorium Terintegrasi Politik Universitas Bakrie. Forum ini secara khusus menyoroti pentingnya pembahasan lintas aspek dalam membentuk profesionalisme, perjalanan karier, dan keseimbangan relasi sipil dan militer di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Aditya memaparkan relevansi perkembangan politik nasional terhadap perancangan dan pelaksanaan jalur karier prajurit TNI. Beliau menegaskan bagaimana perubahan dinamika politik, khususnya dengan menguatnya kepemimpinan populis, memberi dampak langsung pada pola promosi jabatan dan sistem pengembangan personel di tubuh militer. Dalam kenyataannya, profesionalisme di lingkungan TNI kerap berbenturan dengan kepentingan hubungan personal ketika promosi dan penempatan jabatan strategis dilakukan.

Aditya mencontohkan, jalan karier prajurit bukan semata berdasar prestasi dan meritokrasi. Prinsip pengelolaan yang sudah ditanamkan, tetap dipengaruhi praktik relasi personal yang melekat dalam struktur militer. Fenomena ini memicu ketegangan antara kepentingan organisasi yang berbasis prestasi dan kecenderungan preferensi pemimpin yang personalistik. Situasi semacam ini, dalam konteks kepemimpinan populis, cenderung memperkuat pola personalisasi kekuasaan, sehingga proses pengangkatan perwira tinggi bisa bergeser dari standar normatif yang seharusnya.

Menurut paparan Aditya, semakin dominannya faktor kedekatan personal antara institusi militer dan aktor politik menyebabkan mekanisme kontrol sipil lewat lembaga negara melemah. Akibatnya, ruang pengawasan menjadi lebih terbatas dan kepentingan publik berpotensi dikalahkan agenda elite tertentu.

Persoalan batas otoritas sipil dan militer dalam mengelola karier prajurit pun menjadi polemik. Terutama, perdebatan tentang siapa yang semestinya lebih berperan dalam menentukan promosi jabatan strategis, seperti posisi Panglima TNI. Aditya menguraikan bahwa secara global, ada variasi dalam model pengangkatan pimpinan militer. Negara demokrasi seperti Amerika mensyaratkan persetujuan parlemen, sementara di Inggris, pengangkatan dilakukan eksekutif tanpa campur tangan legislatif. Ini menandakan tidak ada satu model tunggal dalam hubungan sipil-militer antar negara, selama prinsip demokrasi tetap jadi pondasi.

Diskusi lalu diarahkan Beni Sukadis pada pentingnya kontrol sipil yang demokratis demi menghadirkan profesionalisme militer sejati. Beni menegaskan, indikator militansi profesional adalah kompetensi pendidikan, kesejahteraan layak, serta dukungan peralatan yang mencukupi. Ia juga menyoroti perubahan signifikan profesionalisme TNI pasca-reformasi yang ditandai kebijakan pemisahan TNI dan Polri, serta pengesahan Undang-Undang yang mempertegas TNI sebagai institusi negara tanpa keterlibatan politik praktis.

Namun ia mengakui, dalam praktik promosi ke jabatan strategis, politik kedekatan tetap menjadi variabel penting. Hal inilah yang memperkuat wacana bahwa sistem meritokrasi masih perlu dievaluasi implementasinya di TNI. Beni pun menambahkan contoh konkret, seperti proses pergantian Panglima TNI yang belum tentu mengikuti rotasi antarmatra yang diasumsikan publik.

Yudha Kurniawan kemudian menggali sisi struktural sistem karier militer Indonesia. Ia menyebutkan, perwira idealnya meniti karier selama 25-28 tahun untuk mencapai posisi Brigadir Jenderal, namun sekarang terjadi ketimpangan antara suplai sumber daya manusia dengan struktur pangkat yang tersedia. Fenomena penumpukan perwira tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam tubuh TNI, dan dipengaruhi kebijakan pendidikan, bottleneck promosi, serta kualitas rekrutmen dan fasilitas yang terbatas.

Tidak hanya itu, aspek lain seperti minimnya anggaran pertahanan serta fasilitas pelatihan pun turut mempersulit regenerasi kepemimpinan di organisasi tersebut. Efeknya memangkas peluang dan ruang bagi pengembangan karier prajurit yang lebih sehat dan proporsional.

Secara umum, forum kuliah tamu ini menjadi ajang mempertemukan perspektif akademik dan pengalaman praktis dalam mengupas problematika reformasi di sektor keamanan. Isu hubungan sipil-militer dan agenda profesionalisme menjadi fokus sebagai bagian dari penguatan tata kelola pertahanan nasional yang demokratis.

Muncul refleksi kritis dari diskusi ini bahwa tantangan utama TNI hari ini adalah menjaga komitmen profesionalisme tanpa mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi. Khususnya, karena konteks politik Indonesia saat ini sedang memasuki fase kemunduran demokrasi (democratic backsliding) di mana posisi dan peran TNI dalam ruang sipil kembali mendapat sorotan.

Kritik dari para pengamat muncul akibat kecenderungan penetrasi TNI dalam urusan sipil, namun mereka menegaskan hubungan sipil-militer harus tetap bersifat timbal balik dan tidak didominasi salah satu pihak. Keseimbangan hanya bisa terwujud jika aktor sipil mampu memastikan batas-batas yang jelas dalam relasi dengan militer. Hal ini mengingat bahwa pengelolaan karier militer adalah isu internal yang pengaruhnya tidak boleh terlalu didikte oleh elite politik, ataupun terlalu longgar sehingga kehilangan kendali institusi sipil.

Diskursus tentang career path dan promosi perwira, menurut para pembicara, seharusnya didekati dari perspektif institusional-organisasional, bukan diangkat menjadi sengketa politik harian. Seperti yang banyak berlaku di negara demokrasi lain, pengelolaan karier aparat pertahanan dilakukan melalui aturan profesional yang mengutamakan merit dan sistem berbasis prestasi.

Pembelajaran penting dari forum ini, penguatan profesionalisme TNI dan keseimbangan hubungan sipil-militer mutlak memerlukan desain institusional yang konsisten serta pengawasan publik yang efektif, khususnya dalam menghadapi tantangan-tantangan politik dan struktural yang terjadi di era reformasi dan demokratisasi.

Sumber: Diskusi UI Membahas Profesionalisme Militer Indonesia Dan Pola Karier Perwira TNI
Sumber: Diskusi UI Ungkap Dinamika Karier Militer Indonesia, Dari Regenerasi Hingga Reformasi TNI